BERTAMPANG PREMAN HATI BAGAIKAN KYAI - UCOK MEDAN

Ads

Travel

BERTAMPANG PREMAN HATI BAGAIKAN KYAI


UCOKMEDAN.com -Perawakannya tinggi besar, rambut gondrong, dan tampang sangar. Sekilas dari penampilannya, orang bakal menyangka M Saleh Yusuf, adalah seorang preman judes tak kenal ampun. Tapi, penampilan laki-laki kelahiran Desa Mawu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terkadang memang ‘menipu’ orang. Tampang boleh sangar, tapi M Saleh sebetulnya memiliki hati lembut.

Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Alan itu bekerja sebagai sopir bus malam AKAP dengan rute Bima-Jakarta. Siapa sangka, di balik penampilannya yang garang, Alan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Berawal dari keprihatinan menyaksikan anak-anak di desanya yang tidak bersekolah dan kurangnya pengetahuan akan agama, lantaran banyak yang ditinggal merantau orang tuanya ke Kalimantan, Malaysia, dan daerah-daerah lain. Sebuah ide membangun sekolah pun terlintas di benaknya.

Berdasarkan pengalamannya melewati beberapa wilayah di Indonesia, ia sadar desanya tertinggal jauh. “Pada waktu itu saya melihat perbandingan kualitas hidup beserta pendidikan selama saya menyetir bus dari Bima ke Jakarta. Saya melihat anak-anak di sekolah dan kampung saya perlu mengubah pola pikirnya. Saya melihat perbandingan itu dan saya sadar kualitas hidup di kampung saya sangat jauh tertinggal,” ungkap di hitamputih, selasa (17/11/2015).

Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, pada 2008 Alan berhasil membangun sekolah gratis tingkat taman kanak-kanak (TK) dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darul Ulum di kampungnya, Desa Mawu, Dusun Tololai, setengah jam perjalanan dari kota Bima.

“Tujuan saya (membangun sekolah) agar mereka (anak-anak) menyadari bahwa mereka harus taat agama dan bekerja meskipun di Bima banyak konflik dan banyak pengangguran. Saya berharap bisa melakukan apapun walau hanya sedikit,” tuturnya.

Meski hanya terbuat dari kayu dan bilik, madrasah itu sangat dirasakan manfaatnya bagi warga sekitar, terutama anak-anak. Kini, Madrasah Darul Ulum telah memiliki 100 siswa dan 15 staf pengajar.

Dalam perjuangannya mencerdaskan anak-anak tidak mampu di Bima, Alan kemudian mulai bersinggungan dengan berbagai bantuan yang bermuatan pencitraan semata. Ada pejabat secara pribadi ingin membantu, namun ia menolaknya lantaran bantuan tersebut terkesan tidak sesuai dengan mekanisme yang lazim. “Kami memang butuh bantuan dari pemerintah atau yang lain. Tapi harus sesuai dengan mekanisme,” Alan memaparkan.

Meskipun begitu niatnya mendidik anak-anak di daerahnya tak surut bahkan ada keinginannya membangun yayasan sampai perguruan tinggi. Baginya orang-orang yang telah mendorongnya berbuat lebih untuk daerahnya adalah orang tua dan saudaranya. “Tujuan saya jelas untuk dunia akhirat. Tapi untuk agama saya tidak boleh riya. Saya sendiri masih harus banyak belajar masalah agama,” ujarnya.

Soal profesinya sebagai sopir bus malam, Alan mengakui tampang sangarnya itu justru banyak ‘membantu’. Sebab, tak jarang harus menghadapi para preman mabuk yang memalak di terminal. Lantaran tampak sangarnya pula, ia disegani para preman dari terminal ke terminal persinggahan busnya. “Taktiknya saya skenariokan bahwa saya preman. Melalui tampang. Agak klaim sedikit. Preman itu bukan sebuah titel. Hanya penampilan kita saja,” katanya.

Sekian lama menjadi sopir bus malam makin menempa perjalanan batinnya. “Saya kerap mengutip ilmu yang saya dapatkan selama perjalanan. Kian lama kian menerangi jalan hidup saya,” ia menjelaskan.

“Di jalanan saya punya peluang untuk mencari rejeki, mencari penumpang. Mereka mau duduk dimana saja saya bolehkan. Ada juga penumpang kehabisan uang saya naikkan saja. Yang paling penting mereka jujur bahwa tidak punya uang,” Alan menambahkan.

(hag/jie)

Subscribe to receive free email updates:

loading...

0 Response to "BERTAMPANG PREMAN HATI BAGAIKAN KYAI "

Post a Comment